Memulung Secercah Asa dan Cita di Gunung Sampah (Bagian- 3)

Baca Juga : Memulung Secercah Asa dan Cinta di Gunung Sampah (2)Baca Juga : IBU TANGGUH-Tiga ibu tangguh pemulung di TPA Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Jumat (7/12/2018). Mereka rela bergelimang sampah, demi masa depan, asa dan cita anak-anaknya. Putra-putri mereka kuliah di UNP dan Unes Padang. Dari kiri: Asmanidar, Isnawati dan Suryati. FOTO: YON ERIZON
______________________________________________________________________________________________

Suami Strok Sejak Setahun Lalu

Oleh: Yon Erizon

Selain, Asmanidar, Suryati dan Isnawati ada lagi Roehana Koedoes lainnya di TPA Air Dingin. Dia adalah Arnis (52 tahun). Salah seorang anaknya Febria Fajri kuliah di Jurusan Filsafat UIN Imam Bonjol, Padang. Febria kini baru semester III. Anak Arnis tujuh orang. Alhamdulillah, rata-rata semuanya berprestasi di sekolah. Ada yang juara 1, 2 dan 3. Ada pun yang hanya masuk rangking 10 besar. Anaknya tidak mendapat fasilitas beasiswa.

Sejak satu tahun lalu, masalah baru datang menghinggapi keluarga Arnis. Suaminya, Amines (56 tahun) diserang penyakit strok. Tangan kanannya lemah dan tak bisa digerakkan. Otomatis suaminya tak bisa bekerja. Uang yang diperoleh sebesar Rp80 ribu perhari dari hasil memulung terpaksa dibagi oleh Amines selain untuk kebutuhan pangan, juga untuk pembeli obat strok suaminya. Satu bulan sekali dibutuhkan uang Rp350 ribu untuk membeli obat herbal. Bahkan kadang bisa mencapai Rp500 ribu sebulan.

Untung anak-anak Amines tak banyak tuntutan dan mengerti dengan kondisi itu. “Mereka mau membantu. Yang besar kan sudah bekerja. Yang lainnya kadang ikut ke TPA dan terkadang pergi mencari ikan dengan alat setrum. Lumayan bisa dapat tambahan Rp20 ribu sampai Rp30 ribu sehari,” kata Amines, sembari melepaskan lumpur-lumpur yang lengket di sepatu botnya.

Tak berbeda dengan tiga teman seprofesinya, Amines juga berharap anak-anaknya kelak jadi orang berhasil. Dia tidak ingin putra dan putrinya hidup seperti dirinya.

Setelah panjang lebar memberikan penjelasan, Asmanidar, Suryati dan Isnawati kembali beraktifitas memungut sampah daur ulang. Sedangkan Amines mau pulang ke rumah di Tanjung Aur, karena ada keperluan mendesak. Tak terasa 1,5 jam waktu dihabiskan bersama dengan ibu-ibu tangguh pemulung TPA Air Dingin tersebut. Sempat berfoto-foto dengan empat ibu tangguh tersebut.

Karena sudah lewat pukul 11.00 WIB, penulis pun mohon izin pulang dan kembali berjalan kaki, menempuh jalan licin berlumpur. Ketika truk yang baru datang dan mau keluar TPA lewat, penulis terpaksa menepi. Sebab truk juga memilih jalan yang lebih dangkal becek dan lumpurnya.

Selanjutnya mengambil sepeda motor yang dititip di pos penjagaan sebelah kanan gerbang masuk TPA. Pagar besi pos itu sudah tertutup. Tapi tidak dipasangi gembok. Hanya sekadar dipasak saja. Petugas di pos juga tak kelihatan lagi. Mungkin sudah pulang dan bersiap-siap menunaikan Shalat Jumat. Karena sendal dan celana kotor berlumpur. Penulis meninggalkan TPA dan pergi membersihkan lumpur di toilet mushalla yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari gerbang TPA.(Bersambung)