Memulung Secercah Asa dan Cita di Gunung Sampah (Bagian- 4)

IBU TANGGUH-Tiga ibu tangguh pemulung di TPA Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Jumat (7/12/2018). Mereka rela bergelimang sampah, demi masa depan, asa dan cita anak-anaknya. Putra-putri mereka kuliah di UNP dan Unes Padang. Dari kiri: Asmanidar, Isnawati dan Suryati. FOTO: YON ERIZON
_______________________________________________________________________________________

Diundang WR IV UNP

Oleh: Yon Erizon

Foto bersama dengan ibu-ibu tangguh pemulung TPA Air Dingin ditambahkan dengan narasi singkat dikirimkan ke beberapa group whatsApp alumni UNP. Karena ada dua pemulung yang anaknya kuliah di UNP. Salah satu group WA yang dikirimkan adalah group DPP Iluni UNP. Di group tersebut ada Rektor UNP Ganefri, para Wakil Rektor, beberapa dekan, Ketua Umum Iluni UNP Ali Mukhni, mantan Walikota Padang Fauzi Bahar dan lainnya.

Tak lebih dari 5 menit setelah diposting, pada salah satu group WA Iluni FT UNP, ada anggota group yang meminta data anak pemulung yang kuliah di UNP tersebut. Anggota itu juga meminta agar dipostingkan nomor rekening si anak pemulung untuk dikirimkan sumbangan oleh alumni.

Berikutnya, tak lama berselang juga muncul postingan dari Wakil Rektor (WR) IV UNP Prof. Syahrial Bahtiar, M.Pd. Mantan WR III UNP itu juga meminta data identitas anak pemulung yang mahasiswa UNP tersebut. “Minta data anak beliau adinda Yon,” kata Syahrial Bahtiar singkat dalam group WA DPP Iluni UNP. Nama, jurusan, dan angkatan kuliah, Vera dan Gerry pun dikirimkan ke group itu.

Pada Sabtu (8/12/2018) WR IV UNP Syahrial Bahtiar kembali menulis di group WA DPP Iluni UNP. “Insyaallah kita bantu bersama. Senin tolong anaknya ke kantor ya adinda. Nanti ambo carikan beasiswa melalui Pak Rektor dan WR III,” tulis mantan Dekan FIK UNP tersebut menanggapi.

Persoalan muncul. Memang sepele, tapi sedikit membutuhkan waktu. Masalahnya, bagaimana menghubungi Vera dan Gerry. Saat diminta nomor handphone (HP) kepada ibunya masing-masing saat di TPA, mereka tak punya HP. Yang punya HP cuma suami mereka. Itu pun HP jadul alias jaman dulu. Bukan android. Celakanya lagi, Asmanidar dan Suryati juga tak hafal nomor HP suaminya.

Keduanya cuma memberitahu alamat rumah. Asmanidar mengatakan tinggal di belakang SMPN 16 Balai Gadang. Tepatnya di Tanjung Aur, RT 03/ RW 06 Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah. Tidak ada nomor rumah. Sedangkan Suryati mengaku rumahnya di Ikur Koto, jalan dekat Sekolah Khaira Ummah. Itu saja datanya.

Selesai Shalat Magrib penulis pun berangkat dengan sepeda motor untuk mencari rumah dua pemulung itu. Tujuannya, menyampaikan pesan WR IV UNP Syahrial Bahtiar. Karena yang terdekat adalah alamat Suryati di Ikur Koto, maka penulis pun masuk ke jalan kecil ke arah Sekolah Islam Khaira Ummah. Penulis bertanya di salah kedai tukang jahit. Dia sedikit mengenal Suryati, tapi tidak tahu persis rumahnya. “Coba tanya dekat simpang. Keluar lagi,” kata tukang jahit.

Pada tempat bertanya kedua disampaikan data lain-lain tentang Suryati. Tentang anaknya yang kuliah semester satu di UNP dan lainnya. Barulah perempuan yang kira-kira umur 45 tahun itu menunjukan arah letak rumah Suryati. Rumah itu masuk ke dalam gang, agak jauh. Sekitar 800 meter ke dalam gang. Penulis sempat tersasar. Salah gang dan di tempat itu tidak ada yang kenal dengan Suryati.

Setelah masuk gang becek berikutnya, di ujung gang ada rumah kayu. Di situ penulis bertanya kepada perempuan berumur sekitar 55 tahun. Menurutnya rumah Suryati sudah terlewat, sambil menunjuk ke arah rumah tembok sederhana . Cat rumah itu berwarna hijau.

Pintu rumah tertutup rapat. Sepi, dari kaca pun terlihat ada orang di dalamnya. Lalu dari rumah sebelah yang hanya berjarak 10 meter, muncul perempuan kira-kira umurnya 60 tahun. “Ada apa, mencari siapa?” tanya perempuan yang berikutnya diketahui bernama Yul.

Setelah dijelaskan siapa dan mengapa mencarinya, lalu Yul yang notabene adalah kakak kandung Suryati mengatakan kalau Ibu Gerry pergi keluar bersama suaminya Saparuddin. Tapi, dia tidak tahu ke mana perginya. “Biasanya kalau hari Sabtu, kadang-kadang pergi arisan. Tapi itulah kami tidak tahu ke mana dia pergi,” sebut Yul.

“Gerry ke mana? “Kalau Gerry pergi berkemah dengan orang di kampusya ke Pariaman,” kata Yul mengabarkan dengan bahasa Minang logat Padang yang khas. Yul dan suaminya juga tak punya nomor HP Saparuddin, suami Suryati.

Setelah ditunggu sekitar setengah jam, sembari berbincang panjang lebar di teras rumrah Yul, ternyata Suryati dan suaminya juga tak muncul. Akhirnya penulis meninggalkan nomor HP. Jika Suryati dan suaminya pulang mohon untuk mengontak penulis. Pesan tentang hari Senin (10/12/2018) Gerry diundang WR IV UNP ke rektorat juga dititipkan ke Yul untuk disampaikan kepada adiknya, Suryati.

Selanjutnya penulis berangkat mencari rumah Suryati di belakang SMPN 16 Padang di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah. Pedagang di sebelah sekolah itu tak mengenal Suryati. Selanjutnya pedagang di belakang SMP juga tak mengenal Suryati. Tapi, begitu ditunjukkan foto Suryati, pemilik warung tersebut langsung mengaku sering melihatnya. “Kalau ibu ini sering saya lihat. Tapi saya tidak kenal dan tak tahu rumahnya. Mungkin di belakang sana. Coba tanya di kedai yang ada dekat penurunan itu,” kata pemilik warung yang usianya sekitar 30 tahunan tersebut.

Begitu penulis bertanya di warung yang dimaksud, pemilik warung langsung menjawab. Itulah adalah istri Pak Ketua RT yang lama. “Ini istri Pak Teman, Ketua RT lama. Rumahnya masih jauh. Lurus jalan ini, sampai di bengkolan aspal jangan belok kiri. Lurus saja tempuh jalan tanah. Di sana ada Mushala Al Muchsinin. Rumahnya dekat Mushalla itu,” katanya menjelaskan. (Bersambung)