Memulung Secercah Asa dan Cita di Gunung Sampah (Bagian-5/Tamat)

IBU TANGGUH-Tiga ibu tangguh pemulung di TPA Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Jumat (7/12/2018). Mereka rela bergelimang sampah, demi masa depan, asa dan cita anak-anaknya. Putra-putri mereka kuliah di UNP dan Unes Padang. Dari kiri: Asmanidar, Isnawati dan Suryati. FOTO: YON ERIZON
___________________________________________________________________________________________________

Menyambut Gembira

Oleh: Yon Erizon

Ada dua ekor anjing berbulu hitam di halaman rumah tembok sederhana itu tidur-tiduran. Begitu penulis memasuki halaman rumah itu, tampak ada bayangan wanita di dalam rumah dari balik kaca bening. Begitu dibunyikan klakson beberapa kali, perempuan itu pun keluar. Ternyata dia masih ingat dan mempersilakan masuk dan menyuruh duduk. Dia pun memanggil suaminya Herman. Warga sekitar memanggil mantan Ketua RT itu dengan Pak Teman, bukan Pak Herman. Vera sedang tidak di rumah. Dia pergi ke simpang tiga Air Dingin membeli bahan kue untuk praktek di SMK N 6, tempat dia PKL mengajar.

Dua cangkir kopi diletakkan Suryati di meja hadapan kami. “Silakan diminum Pak,” katanya berbasa basi. Begitu mendengar kabar tentang undangan WR IV UNP untuk Vera dan Gerry, mata Suryati dan suaminya tampak berbinar-binar. Ia tak mampu menyembunyikan rasa senang di hatinya. Ia menyambut gembira undangan WR IV UNP tersebut.

Cerita pun mengalir soal Gerry dan orang tuanya yang tak ada di rumah. Herman pun ternyata juga tak punya nomor HP Saparuddin. Yang ada hanya nomor HP lama Saparuddin. Dia pun minta nomor HP Sapar ke sejumlah temannya. Akhirnya pun nomor itu didapat.

Karena Herman tak punya saldo pulsa, akhirnya penulis yang langsung menghubungi Sapar, suami Suryati. Setelah perkenalan dan menyampaikan maksud, Sapar pun mengatakan akan langsung menuju rumah Herman. “Saya sedang di Lori, baru siap arisan. Ya, sekarang kami langsung ke rumah Pak Teman,” katanya.

Ada sepeda motor yang memasuki halaman rumah Herman. Dikira Saparuddin dan istrinya, ternyata Vera yang pulang. Vera langsung disuruh bergabung oleh mamanya, Suryati. Tak lama berselang, giliran Saparuddin dan Suryati yang datang dengan sepeda motor bebeknya.

Keduanya muncul di pintu dengan senyum sumringah. Tampaknya, mereka sangat senang dengan kabar baik berupa peluang beasiswa yang akan dicarikan oleh WR IV UNP Syahrial Bahtiar yang juga pemilik Kolam Renang ABG di Aia Dingin. “Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak,” katanya menyalami penulis.

Selanjutnya giliran Isnawati, adik dari Asmanidar yang muncul bersama anaknya yang kuliah di FT Unes, Ratih. Rupanya dia dipanggil oleh Asmanidar ke rumah. Beradik kakak itu memang rumahnya berdekatan. “Kalau Ratih bagaimana Pak. Tolong dibantu juga di Unes,” katanya berharap.

Jam menunjukkan pukul 22.05 WIB. Setelah berbicara panjang lebar, janji pun dibuat. Hari Senin (10/12/2018) setelah shalat Zuhur atau sekitar pukul 13.00 WIB, Vera dan Gerry akan datang ke rektorat menemui WR IV UNP. “Besok Gerry pulang KBM, langsung kami sampaikan,” kata Suryati. (*)Baca Juga: Memulung Secercah Asa dan Cita di Gunung Sampah (4)